Berkah Proyek RDMP Balikpapan, Potret Indah Senyum Ibu Sri Nurhidayati dan Pelaku UMKM



Balikpapan — Di tengah dentum pembangunan yang tak pernah benar-benar sunyi, di antara harapan besar Indonesia untuk berdiri tegak sebagai bangsa yang mandiri energi, hadir kisah-kisah kecil yang penuh kehangatan. Kisah yang mungkin tampak sederhana, namun menyimpan arti besar bagi mereka yang merasakannya secara langsung. Proyek RDMP Balikpapan bukan hanya tentang kilang modern yang segera beroperasi ia juga tentang hidup yang bergerak, asa yang bangkit, dan senyum warga yang kembali merekah.

Di sebuah rumah sederhana tak jauh dari Kilang Balikpapan, Ibu Sri Nurhidayati pemilik indekos yang semua orang kenal ramah—mengenang bagaimana hidupnya berubah sejak geliat RDMP Balikpapan bertambah pesat.
“Permintaan kost meningkat sekali sejak ada proyek RDMP,” tuturnya dengan mata berbinar. Lima petak kost miliknya, yang ia sewakan seharga Rp700 ribu per bulan, kini tak pernah lagi kosong. Aturan pembayarannya yang harus di muka adalah bentuk kehati-hatian—kecil, tetapi penting—yang menandai kematangan bisnisnya.

Namun yang membuatnya semakin bersyukur bukan hanya kamar yang selalu penuh, tapi juga peluang lain yang datang tanpa diduga.
“Saya jual nasi campur, bakso, minuman untuk para pekerja RDMP,” ujarnya sambil tersenyum. Berkat jarak rumahnya yang begitu dekat dengan kilang Pertamina, penghasilannya melonjak drastis.
“Sehari bisa dapat Rp1,5 juta. Alhamdulillah… ini berkah,” katanya lirih, seolah masih tak percaya bagaimana proyek besar negara bisa mengubah dapurnya menjadi sumber rezeki yang melimpah.

Tak jauh dari sana, di sudut jalan tempat ia berjualan sejak empat dekade lalu, Bapak Suratno pedagang klontongan yang sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Balikpapan mengatakan hal yang sama: ada perubahan besar yang ia rasakan.
“Keberadaan proyek RDMP itu luar biasa bagi kami,” ucapnya. Bersama sang istri, ia kini bisa meraup keuntungan hingga Rp800 ribu per hari. Sebuah angka yang dulunya sulit ia bayangkan.

Ia memang tak menutup-nutupi pengalaman pahit—sebagian pekerja yang sudah selesai kontrak pernah pulang tanpa membayar utang makanan. Namun bagi Suratno, itu semua tidak sebanding dengan berkah yang ia dapatkan dari hadirnya ribuan pekerja RDMP.
“Saya mulai berjualan waktu masih bujang. Sekarang anak-anak saya sudah selesai kuliah,” ucapnya, bangga. Kisah hidup yang bertaut erat dengan perkembangan kota dan kilang Pertamina yang ia saksikan sejak lama.

Dua kisah mengharukan ini hanyalah sepotong kecil dari mozaik besar yang dibangun RDMP Balikpapan. Kehadiran proyek ini tak hanya mengubah wajah infrastruktur energi nasional, tetapi juga menggerakkan denyut ekonomi lokal. Warung makan, percetakan, jasa katering, laundry, transportasi, dan berbagai UMKM lainnya ikut tumbuh dan menikmati manfaatnya. Vendor-vendor lokal diberdayakan, uang berputar di masyarakat, dan ekonomi kecil yang lama tertidur kini kembali hidup.

RDMP Balikpapan proyek strategis Kilang Pertamina Internasional (KPI) — bukan hanya simbol kemandirian energi Indonesia. Ia telah menjadi sumber rezeki, peluang, dan harapan baru bagi masyarakat Balikpapan.

Senyum Ibu Sri, keteguhan Pak Suratno, dan geliat UMKM di sekeliling kilang menjadi bukti bahwa pembangunan besar akan selalu menemukan maknanya ketika mampu menyentuh hati rakyat yang berada paling dekat dengannya.

Dan di Balikpapan, makna itu terasa nyata. Terlihat. Hidup.

BACA JUGA