Di ruang publik Indonesia yang sering gaduh oleh perdebatan, nama Joko Widodo hampir tidak pernah benar benar sepi dari sorotan. Setiap langkahnya dibicarakan. Setiap kebijakannya diperdebatkan. Bahkan hal hal yang seharusnya sudah selesai pun kerap dihidupkan kembali dalam berbagai tudingan.
Beberapa waktu terakhir, kritik keras datang dari Rismon Hasiholan Sianipar yang mempertanyakan berbagai hal tentang masa lalu Jokowi, termasuk soal ijazah yang disebut berasal dari Universitas Gadjah Mada. Isu ini beredar luas, diperdebatkan di media sosial, dibicarakan di kanal YouTube, dan diulang berkali kali seolah menjadi cerita yang tidak pernah selesai.
Tetapi di tengah riuh itu, ada satu hal yang justru terasa kontras. Jokowi hampir tidak pernah membalasnya dengan kemarahan.
Ia tidak menjadikan kritik itu sebagai panggung untuk menyerang balik. Ia tidak mengisi ruang publik dengan bantahan yang emosional. Bahkan ketika tudingan terasa personal, Jokowi tetap memilih jalan yang sama. Diam, bekerja, dan melanjutkan tugasnya.
Bagi sebagian orang, sikap seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun dalam dunia politik yang penuh reaksi cepat dan adu kata, kesabaran seperti itu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kekuatan batin untuk menahan diri ketika nama baik dipertanyakan di depan publik.
Jokowi sendiri bukanlah tokoh yang lahir dari panggung besar politik. Ia datang dari kehidupan sederhana di Solo, memulai karier sebagai pengusaha mebel sebelum kemudian dipercaya menjadi wali kota, gubernur, hingga akhirnya menjadi presiden. Jalan hidup seperti itu membentuk karakter yang berbeda. Lebih dekat dengan kerja nyata daripada perdebatan yang tidak berujung.
Mungkin karena itulah Jokowi tidak merasa perlu membalas setiap tuduhan. Ia tahu bahwa dalam kehidupan, tidak semua serangan harus dijawab dengan kata kata. Ada saat ketika jawaban terbaik adalah tetap berjalan, tetap bekerja, dan membiarkan waktu yang menjelaskan semuanya.
Narasi tentang jalan pulang sebelum Lebaran yang beredar di ruang publik sebenarnya bisa dimaknai dengan cara yang lebih dalam. Lebaran dalam budaya Indonesia bukan sekadar perayaan, tetapi momen kembali kepada hati yang bersih, kepada kejujuran, kepada saling memaafkan.
Dalam makna itu, jalan pulang bukanlah ancaman bagi siapa pun. Ia adalah pengingat bahwa pada akhirnya setiap manusia akan kembali pada penilaian yang paling jujur, penilaian rakyat dan perjalanan waktu.
Dan mungkin itulah yang membuat banyak orang tetap bersimpati kepada Jokowi. Di tengah badai kritik, ia tidak membalas dengan kebencian. Di tengah tudingan, ia tidak memilih memperbesar konflik. Ia tetap berjalan dengan cara yang sama seperti sejak awal. Sederhana, tenang, dan lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Di negeri yang sering dipenuhi suara keras, kadang justru sikap diam yang paling terasa. Bukan karena tidak mampu menjawab, tetapi karena memilih untuk tidak menambah kebisingan.
Kesabaran seperti itu tidak selalu terlihat mencolok. Tetapi bagi banyak orang, justru di situlah letak kekuatan seorang Jokowi.
oleh: bengkel dodo


