Sudaryono: Demokrasi Harus Dijaga dengan Dialog, Bukan Persekusi



Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa demokrasi harus dijalankan melalui dialog dan pertukaran gagasan, bukan intimidasi maupun tindakan kekerasan terhadap pihak yang memiliki pandangan berbeda.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul insiden yang terjadi saat dirinya bersama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko menghadiri sebuah forum di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Menurut Sudaryono, kedatangannya bersama Nusron dan Budiman semata-mata untuk berdiskusi dan menjawab berbagai pertanyaan dari peserta. Mereka membuka ruang dialog seluas-luasnya, termasuk terhadap kritik dan pertanyaan yang tajam sekalipun.

“Kami datang untuk berdialog, mendengar, dan menjawab. Kritik adalah bagian dari demokrasi dan itu hal yang biasa,” ujar Sudaryono.

Namun, di tengah jalannya kegiatan, suasana mulai memanas akibat ulah sejumlah oknum yang diduga melakukan provokasi sehingga diskusi tidak dapat berlangsung secara kondusif. Situasi yang semula diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan berubah menjadi kericuhan.

Dalam kejadian tersebut, sejumlah tindakan yang mengarah pada kekerasan dilaporkan terjadi. Lemparan botol air sempat melayang ke arah rombongan, bahkan terjadi kontak fisik yang menyebabkan pukulan mendarat di pundak salah satu pihak.

Meski demikian, Sudaryono dan rombongan memilih menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperkeruh keadaan. Mereka berharap situasi dapat kembali tenang sehingga dialog tetap bisa dilanjutkan.

Ketegangan bahkan berlanjut saat rombongan hendak meninggalkan lokasi. Kendaraan yang ditumpangi sempat dihadang oleh massa. Alih-alih merespons dengan emosi, Sudaryono bersama rekan-rekannya justru turun dari kendaraan dan mencoba membuka ruang percakapan secara langsung dengan para peserta aksi.

Mereka bahkan duduk bersama di atas aspal dengan harapan tercipta komunikasi dua arah yang lebih setara. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena situasi sudah terlanjur gaduh dan sulit dikendalikan.

Bagi Sudaryono, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak cukup hanya menjamin kebebasan berpendapat, tetapi juga harus disertai penghormatan terhadap hak orang lain untuk berbicara dan menyampaikan pandangannya.

“Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Tetapi ketika ruang dialog ditutup dengan intimidasi, teriakan, atau kekerasan, maka yang dirugikan bukan hanya individu yang menjadi sasaran, melainkan kualitas demokrasi itu sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa bangsa Indonesia memiliki tradisi musyawarah yang kuat. Karena itu, setiap perbedaan seharusnya diselesaikan melalui adu gagasan dan argumentasi, bukan melalui tindakan yang mengarah pada persekusi.

Menurut Sudaryono, demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang memberi ruang kepada semua pihak untuk berbicara, mendengar, dan saling menghormati. Sebab hanya dengan cara itulah perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, bukan sumber perpecahan.

#GarudaMerah #MasDar

BACA JUGA