Sejak awal Prabowo terjun ke dunia Politik saya sudah tertarik dengan berbagai gagasan nya, kapasitas beliau sebagai pengusaha sukses dan hasil didikan begawan ekonomi ternama di Indonesia Soemitro Djojohadikusumo, sehingga jelas pemikirannya bukan pemikiran ngawur atau khayalan.
Ada hal menarik yang ingin saya bagikan mengenai sebagian analisis Mantan Danjen Kopassus yang juga pernah mengikuti serangkaian kursus Penyelidik ini yakni mengenai dua tantangan besar yang harus dilalui Indonesia untuk menjadi negara maju.
Dalam berbagai tulisan yang menyatakan bahwa angka PDB kita saat ini hanya dari PDB Malaysia dan dari Singapura sehingga dapat dilihat di berbagai laman di Malaysia rata-rata 3 kali lebih sejahtera dari orang Indonesia bahkan negara kecil seperti Singapura 15 kali lebih sejahtera dari rakyat Indonesia, saya tidak menjustifikasi bahwa rakyat Indonesia miskin tapi menurut data itulah kenyataannya.
Prabowo Subianto sebagai mantan Prajurit yang pernah disumpah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia serta menjaga kedaulatan NKRI, Bhinneka Tungga Ika dan Pancasila dalam berbagai pidatonya jelas terlihat bahwa ia sangat prihatin melihat keadaan bangsa Indonesia yang belum sejahtera secara umum namun tinggal di negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah.
Tentunya ia merasa kita harus mengejar kemajuan negara negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yakni dengan menumbuhkan PDB kita diatas 10% selama beberapa tahun menurutnya jika PDB sudah tumbuh diatas 10% kita dapat keluar dari middle income trap atau negara yang terjebak dalam kategori pendapatan menengah.
Prabowo Subianto sangat yakin bahwa kita bisa keluar dari permasalahan PDB yang hingga tahun ini hanya 5% yang bahkan menurun dari yang pernah dicapai pada pemerintahan SBY yakni 6% tentunya hal ini tidak lepas dari peran sektor pemerintah, yang harusnya hal sentral semacam ini dipelopori oleh Pemerintah pasalnya Pemerintah lah yang memberi izin, memberi jalan dan memberdayakan setiap sektor usaha yang berjalan di Indonesia baik BUMN maupun milik swasta.
Tantangan yang pertama menurut Prabowo yakni menambal kebocoran yang menyebabkan mengalir keluarnya kekayaan nasional Indonesia (Net Outflow of National Wealth) ia menganalogikan kekayaan sebuah negara bagaikan darah dan Indonesia ini sedang dalam keadaan berdarah bahkan sejak ratusan tahun lalu.
Parahnya, banyak dari elit pemerintah yang sadar akan hal ini tapi lebih memilih diam dan pasrah bahkan sebagian dari mereka menjadi penyalur kekayaan tersebut demi memperkaya dirinya sendiri atau kelompoknya, hal ini bisa dilihat dari neraca perdagangan terutama kepemilikan perusahaan yang melakukan ekspor, data simpanan luar negeri yang banyak berasal dari pengusaha di Indonesia serta perusahaan asing yang mengambil banyak keuntungan dari Indonesia.
Berdasarkan sejarah Indonesia selama 63 tahun dijajah belanda, Belanda berhasil meraup keuntungan sebesar Rp. 66.600 triliun (sumber: center for Southeast Asian Studies Chulalongkorn University, 2012) yang mengakibatkan sumber daya alam indonesia banyak terkuras, menurut penelitian Harvard University: Atlas of Economic Complexity, 2014 nilai ekspor kita terbanyak pada produk mineral yang mencapai 30%.
Bahkan menteri keuangan pernah mengakui bahwa pada agustus 2016 kekayaan indonesia sebanyak Rp. 11.400 triliun terParkir di luar negeri, kronologinya para pengusaha asing ini menjual hasil alam Indonesia, menggunakan jalanan dan fasilitas milik Indonesia, menggunakan tenaga milik orang Indonesia tetapi saat mendapat keuntungan mereka menyimpannya di luar dari Indonesia, bahkan pengusaha di Indonesia banyak menyimpan keuntungan mereka di luar negeri.
Tentu Saja simpanan kekayaan atau tabungan pengusaha Indonesia yang berada di luar negeri akan berdampak pada pelemahan Rupiah terhadap mata uang asing, sehingga tidak heran beberapa bulan terakhir Rupiah sempat bertengger di angka 15.000 per USD.
Menurut data dari MIT Atlas of Economic Complexity,2016 sebanyak 25% export hasil alam kita ke Jepang dan RRT (china) sedangkan Impor 14% dari Singapura, sangat memprihatinkan di tahun 2016 negara kecil seperti Singapura mampu mengekspor ke Indonesia sebanyak 14% dari total Impor kita di tahun yang sama.
Menurut Prabowo Subianto hal tersebut dikarenakan ketidak mampuan pemerintah kita dalam berlaku jujur, elit pemerintah kita terlalu banyak berbohong, data yang dipaparkan oleh pemerintah sangat tidak bersesuaian dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat.
Data dari bps yang mengatakan bahwa standar kemiskinan di Indonesia adalah sekitar Rp. 12.000, sangat tidak masuk akal, jadi jika penghasilan satu kepala adalah Rp. 13.000 maka ia tidak dikategorikan miskin, biarlah masyarakat yang menilai apakah Rp. 13.000 kita sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari hari? Ataukah data tersebut hanya untuk menurunkan jumlah kemiskinan secara tertulis oleh pemerintah?
Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang ketimpangan yang dirasakan masyarakat secara umum biarlah masyarakat sendiri yang mengambil kesimpulan atas data diatas.
Tantangan besar kedua yang harus diselesaikan Indonesia yaitu moral berdemokrasi yang kebanyakan dikuasai oleh pemodal besar, maksudnya ketidakmampuan pemerintah berpihak pada rakyat karena sangat mudah disogok, akhirnya mereka tidak menjaga amanah rakyat malah memperjual belikan negara kepada pemodal besar bahkan kepada bangsa lain.
Mental seorang pemimpin yang hanya menjadikan uang sebagai alat untuk menduduki jabatan demi meraup keuntungan pribadi sangat membahayakan bagi kemajuan bangsa Indonesia karena hanya dengan uang mereka mampu membeli hukum, Indonesia ibarat sedang dijajah kembali, hampir semua lembaga kita sudah dirusak, bahkan pemimpin pemimpin agama pun ada yang sudah mulai dirusak dengan uang.
Prabowo bahkan menggambarkan ketimpangan ini dengan ketakutannya ketika nanti ada orang kaya diluar sana melihat Indonesia di peta dunia, mereka melihat ada Price tag (label harga) karena sistem demokrasi liberal yang kita anut.
Prabowo Subianto dalam beberapa bukunya menggambarkan pengusaha asing bukan sebagai musuh tetapi sebagai partner yang bisa saling menguntungkan bagi negara, ia tidak ingin Indonesia hanya bisa dijadikan ladang keuntungan namun menginginkan Indonesia bisa berdiri tegak dan setara dengan negara maju tentunya dengan SDA dan SDM Indonesia yang melimpah.
“I want to be your friend, I want to be your partner, but I can not be your peon” tulis Prabowo dalam salah satu bukunya berjudul “Paradoks Indonesia” ia melihat potensi Indonesia yang bisa setara dengan negara lain bukan sebagai budak atau sapi perah.
Keberhasilan negara demokrasi juga diukur dari kemampuan negara itu melindungi hak hak setiap warga negara baik dalam menyampaikan pendapat dan mendapatkan pelayanan, sangat lah miris ketika melihat kebebasan berpendapat warga negara dibungkam sedangkan penanganan berbagai kasus besar tidak bisa diselesaikan.
Bahkan beberapa media sebagai penyebaran Informasi dikuasai oleh oligarki oligarki yang hanya ingin bertengger dan mengambil keuntungan dari pemerintah atau satu pihak, bukan murni ingin menyebarkan informasi yang layak diketahui oleh publik.
Jadi sangatlah rasional jika seorang Prabowo tiap pidato hampir materinya itu itu aja karena yah memang masyarakat harus mengerti apa yang terjadi di negara kita dan pemerintah harus ada yang menegur, jangan sampai kebablasan.
Pemikiran Prabowo sebenarnya masih banyak terkait hal ini namun penulis memutuskan membuat tulisan tersendiri untuk materi ini, jadi sampai disini dulu pembahasan saya, semoga dapat dimengerti, sampai jumpa.
Oleh: Muhammad Akmal Latang (Penulis Aktif Kompasiana)


