Dilansir dari detiknews Senin, 05 Jun 2023 Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dewi Fortuna Anwar, menyoroti pidato Menhan RI Prabowo Subianto yang mendorong dialog antara China dan AS saat berbicara tentang kekhawatirannya terhadap instabilitas kawasan. Dewi menyebut pidato Prabowo menarik untuk diamati. Menurut Dewi, apa yang disampaikan Prabowo merupakan bagian penting bagi Indonesia di tengah menegangnya hubungan kedua negara itu.
Pidato bernada keras dan tajam tersebut seakan membuktikan kepada dunia bahwa Negara Indonesia sudah sebanding dengan Negara-negara maju lainnya. Pidato prabowo yang sarat akan kepentingan bersama dan cintanya akan perdamaian , membuat para partisipan terkesima. Perjuangannya di forum internasional itu, seakan memberi bukti kepada lawan-lawan politiknya yang memandang enteng dirinya.
Dalam pidato tersebut prabowo tidak hanya berbicara omong-kosong yang bersifat emosional. Melainkan juga, berlandaskan fakta dan sejarah tentang Negara-negara di asia yang lebih mengetahui arti perang ketimbang Negara-negara di eropa. Menhan RI Prabowo Subianto lewat pidatonya yang berapi-api memberikan kesan yang cukup mendalam bagi bangsa eropa. Bahwasanya Negara-negara asia tidak dapat dipandang sebelah mata. Atau bisa kita simpulkan juga Menhan RI Prabowo Subianto menggunakan politik pengakuan di kancah dunia internasional.
Semua pendapat diatas hanya bermuara pada satu statement yaitu sudah saatnya Indonesia diakui sebagai kekuatan besar dimata dunia. Sudah saatnya macan asia bangkit dari tidurnya. Lalu siapa yang pantas memimpin dan membangunkan macan tersebut. Tidak lain adalah Menhan RI Prabowo Subianto yang membawa pengakuan dunia international kepada Negara kita. Dan mungkin sudah saatnya kita bangsa Indonesia sadar bahwa cinta Prabowo Subianto tidak dapat diragukan lagi.
Adalah Axel Honneth adalah seorang teoretisi kontemporer yang terkenal sebagai tokoh Teori Kritis dari Mazhab Frankfurt generasi ketiga. Salah satu tesis terkenalnya adalah teori pengakuan (theory of recognition) atau politik pengakuan. Konsep politik pengakuan ini berkaitan erat dengan martabat manusia, yang menyatakan bahwa setiap individu pada dasarnya menginginkan diakui kekhasannya atau keunikannya sebagai manusia.
Pemikiran Honneth memungkinkan kita untuk menyadari bahwa sebagai subjek, kita mengharapkan penghormatan dari subjek lain, dan sebaliknya, subjek lain juga menginginkan penghormatan terhadap keunikan dan kekhasannya. Oleh karena itu, pemikiran Honneth relevan dalam menghindari sikap diskriminatif terhadap orang lain, menghindari rasisme, dan sikap-sikap yang dapat memecah keutuhan bangsa.
Dalam konteks ini, pemahaman konsep politik pengakuan Honneth dapat membantu kita untuk memahami pentingnya menghormati dan mengakui martabat setiap individu. Hal ini dapat mendorong kita untuk menghindari perilaku atau sikap-sikap yang merendahkan, memiskinkan, atau mendiskriminasi orang lain berdasarkan ras, agama, gender, atau atribut lainnya. Dengan demikian, pemikiran Honneth memberikan sumbangan penting dalam mempromosikan keadilan sosial, kesetaraan, dan memperkuat solidaritas antara anggota masyarakat.
Politik pengakuan tidak hanya berlaku bagi satu bangsa yang terdiri dari masyarakat majemuk saja. Tetapi juga bagi semua manusia yang ada di dunia. Sikap diskriminatif, saling merendahkan antara satu Negara dan Negara yang lain hanya akan membawa peperangan. Keadaan ini dapat terjadi karena kita sering kali menganggap sesama kita bukan sebagai sesama subjek yang harus dihormati. Tetapi kita malah memandangnya sebagai objek yang dapat diperlakukan secara semena-mena.
Politik pengakuan juga berkaitan erat dengan etika dan moral, Karena di dalamnya juga terdapat bagaiman kita harus memperlakukan sesama dengan baik dan benar. Atau lebih tepatnya memanusiakan manusia. Menhan RI Prabowo telah menunjukan kepada dunia bahwa kita sebagai manusia-manusia timur juga sama dan sederajat dengan manusia-manusia barat. Beliau dengan mentalitas bajanya membantah semua gugatan-gugatan lawan-lawannya yang masih ingin mengobjekan kita manusia dari timur di forum internasional tersebut. Dengan bangga saya sebagai putra bangsa berkata dia adalah pemimpin yang akan membawa bangsa kita menuju kejayaannya.
Penulis: Julio Purba Kencana (Penulis Aktif Kompasiana)


