Denpasar, 18 Oktober 2025 —Jagat maya Indonesia diguncang kabar duka meninggalnya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, yang diduga mengakhiri hidupnya akibat perundungan. Peristiwa ini menimbulkan gelombang empati publik yang luar biasa besar di media sosial, khususnya di platform TikTok.
Berdasarkan laporan Big Data Evello periode 11–18 Oktober 2025, isu “Timothy Anugerah” tercatat sebagai topik paling viral nasional dengan 176.209.854 kali tayang atau 58,92% dari total percakapan daring. Angka ini jauh melampaui isu populer lainnya seperti SMAN 1 Cimarga (67.403.066 tayangan / 22,54%), Kereta Cepat (28.712.033 tayangan / 9,60%), dan Satgas Habema TNI (26.724.887 tayangan / 8,94%).
Lonjakan atensi publik tersebut menunjukkan bahwa kasus ini bukan sekadar tragedi personal, melainkan juga refleksi sosial tentang menurunnya nilai adab dan empati di lingkungan akademik.
Meski banyak yang beranggapan mahasiswa sudah “dewasa secara intelektual”, kenyataannya masih ada yang gagal memahami batas antara candaan dan kekerasan verbal.
“Tragis sekali. Kampus seharusnya jadi ruang tumbuh, bukan tempat runtuh,” tulis salah satu komentar yang viral di TikTok.
Fenomena ini juga memunculkan ribuan unggahan dengan tagar #RIPTimothy, #StopBullying, dan #AdabLebihTinggiDariIlmu, menandakan keresahan kolektif terhadap praktik perundungan yang masih menembus ruang-ruang pendidikan tinggi.
Pengamat media digital menilai, besarnya percakapan daring ini bisa menjadi titik balik bagi dunia kampus dan lembaga pendidikan untuk memperkuat sistem pencegahan bullying, menyediakan pendampingan psikologis, serta membangun budaya saling menghargai di antara mahasiswa.
Karena seperti yang kini digaungkan warganet di seluruh Indonesia:
“Kita tidak butuh mahasiswa yang hanya pintar berpikir, tapi juga yang tahu bagaimana berperilaku
Sumber: Dudy Rudianto


