Azis Subekti: Jangan Korbankan Martabat Manusia di Papua Demi Narasi Digital


JAKARTA – Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, mengeluarkan peringatan keras mengenai fenomena kekuatan narasi dan propaganda modern yang kini menyasar isu Papua Selatan. Menanggapi diskursus seputar film Pesta Babi dan dinamika di ruang digital, Azis mengajak publik mengedepankan kesadaran kritis agar Papua tidak sekadar menjadi komoditas perdebatan.

Perang Persepsi vs Realitas Lapangan
Menurut Azis, tantangan bangsa saat ini bukan lagi sekadar kekuatan fisik, melainkan kekuatan narasi. Ia menyoroti bagaimana potongan cerita, gambar, dan emosi di media sosial sering kali membentuk persepsi publik secara prematur sebelum masyarakat memahami fakta secara utuh.

“Kritik itu perlu, tapi harus berdiri di atas keberimbangan, data, dan tanggung jawab moral. Kita tidak boleh membiarkan Papua hanya menjadi arena perang persepsi di ruang digital sementara realitas di lapangan jauh lebih kompleks,” tulis Azis Subekti melalui akun X miliknya.

Fokus pada Pembangunan dan Manusia
Legislator dari Gerindra ini menekankan bahwa Papua, khususnya Papua Selatan, bukan sekadar objek perdebatan politik. Di balik setiap isu, terdapat wajah manusia, keluarga, dan harapan anak-anak Papua yang harus dilindungi.

Azis merinci sejumlah aspirasi mendasar warga asli Papua yang harus menjadi prioritas pemerintah:

Pendidikan dan Kesehatan: Akses memadai untuk memutus rantai kemiskinan.

Infrastruktur Dasar: Ketersediaan listrik dan konektivitas ekonomi melalui pasar-pasar lokal.

Penghormatan Adat: Melibatkan dan mendengar suara masyarakat adat dalam setiap proses pembangunan.

Selaras dengan Visi Asta Cita
Lebih lanjut, Azis menegaskan bahwa perjuangan Fraksi Gerindra di DPR RI tegak lurus dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita. Pembangunan Indonesia harus bersifat inklusif—menyentuh daerah terluar tanpa meninggalkan martabat manusia.

“Partai Gerindra berkomitmen menjaga kedaulatan bangsa dan mendorong pembangunan yang adil. Fokus kami adalah memastikan Papua menjadi ruang harapan dan kemajuan, bukan sekadar bahan konten yang memicu polarisasi,” tambahnya.

Pesan untuk Publik
Di akhir pernyataannya, Azis mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyerap informasi digital. Ia berharap kritik yang muncul terhadap kebijakan di Papua tetap berorientasi pada solusi dan persatuan nasional, agar tidak memperkeruh suasana yang justru dapat menghambat kesejahteraan rakyat kecil di lapangan.

BACA JUGA