Kebumen, Saksi Lahirnya Begawan Ekonomi Indonesia: Sumitro Djojohadikusumo



KEBUMEN – Sebuah rumah tua di Panjer, Kebumen, menyimpan sejarah besar bangsa Indonesia. Rumah ini dulunya merupakan kediaman Margono Djojohadikusumo, pejabat tinggi Volkscredietwezen (Dinas Perkreditan Rakyat) sekaligus tokoh pergerakan nasional yang juga menjadi Ketua Budi Utomo cabang Kebumen pada tahun 1915.

Di rumah inilah, pada 29 Mei 1917, lahir seorang bayi yang kelak menjadi begawan ekonomi Indonesia — Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Proses kelahirannya berlangsung dramatis. Dua dokter, dr. Oosterhuis dari Zending dan dr. Moehiman, membantu persalinan Siti Katoemi (istri Margono). Namun bayi yang lahir pada pukul 02.00 WIB itu tak bergerak dan tak menangis. Dokter menyatakan sang bayi telah meninggal, dan keluarga diminta merelakan.

Namun, tiga jam kemudian terjadi keajaiban. Bayi yang semula tak bernyawa itu tiba-tiba menangis keras, menghidupkan kembali harapan dan kebahagiaan keluarga. Bayi itu kemudian diberi nama Sumitro Djojohadikusumo.

Pendiri Yayasan Wahyu Pancasila, Ravie Ananda, menjelaskan bahwa kisah kelahiran penuh mukjizat itu menandai kehadiran sosok penting dalam perjalanan bangsa.

“Dari rumah sederhana di Panjer Nagari inilah lahir pemikir besar yang meletakkan dasar ekonomi Indonesia modern. Sumitro bukan hanya Begawan Ekonomi, tapi juga pejuang Panjer yang membawa semangat kebangsaan ke tingkat nasional,” ujar Ravie.

Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai arsitek utama kebijakan ekonomi nasional dan tokoh kunci dalam pembangunan pascakemerdekaan. Ia juga merupakan ayah dari Jenderal (Purn) Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia ke-8.

Kini, rumah bersejarah ini menjadi saksi hidup yang menghubungkan masa lalu perjuangan ekonomi bangsa dengan kepemimpinan nasional masa kini. Kebumen, dengan demikian, bukan hanya daerah bersejarah, tetapi juga tanah lahir gagasan besar tentang Indonesia yang berdaulat secara ekonomi.

BACA JUGA