Nama Jokowi Kini Jadi Komoditas dalam Ekonomi Kebencian

https://x.com/awikuchuz/status/1988788884927651945?s=20

 

Pengamat media digital Banyu Kresnadi, M.Sc. menyoroti fenomena meningkatnya kanal YouTube dan media alternatif yang gencar menyerang Presiden Jokowi. Menurutnya, pola ini bukan lagi murni kritik politik, melainkan sudah bergeser menjadi strategi bisnis berbasis algoritma.

“Sekarang banyak kanal yang hidup dari menjual sentimen anti-Jokowi. Semakin keras serangannya, semakin tinggi penontonnya, dan semakin besar pendapatan iklannya. Jadi, kebencian diubah jadi monetisasi,” jelas Banyu di Jakarta.

Ia menilai bahwa algoritma media sosial bekerja dengan logika emosi, bukan rasionalitas. Konten yang memancing kemarahan, kecurigaan, dan provokasi justru paling sering direkomendasikan ke pengguna.
“Yang dicari bukan kebenaran, tapi keterlibatan. Maka muncul ironi: mereka yang paling keras menghina Jokowi, justru paling dihidupi oleh popularitas nama Jokowi,” tambahnya.

Banyu menyebut fenomena ini sebagai bentuk ekonomi kebencian sebuah industri baru yang mengubah politik menjadi tontonan, dan opini publik menjadi komoditas.
“Konten anti-Jokowi bukan lagi ekspresi idealisme, melainkan komoditas digital. Nama Jokowi dijual di pasar algoritma  dan yang membeli adalah emosi masyarakat,” pungkasnya.

 

 

Banyu Kresnadi: 

BACA JUGA