Kisah Prabowo dalam Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma

Penulis: M. Fajri Yanuar

OpiniKita.Id – Operasi pembebasan sandera Mapenduma adalah operasi militer untuk membebaskan peneliti dari Ekspedidi Lorentz 95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka, sebagian besar operasi ini berasal dari Kopassus dimulai pada 8 Januari 1996 sampai 9 Mei 1996 yang dipimpin oleh komandan Jenderal Kopassus Brigjen TNI Prabowo Subianto.

Pada 8 Januari 1996 sebanyak 26 orang yang berasal dari 10 Tim Ekspedisi Lorentz 1995, 3 orang periset WWF dan UNESCO, 13 penduduk desa yang sedang mengumpulkan data di Mapenduma Papua diculik oleh ratusan anggota OPM pimpinan Daniel Yudas Kogoya.

Peristiwa penyanderaan itu menjadi sorotan dunia Internasional karena melibatkan warga negara asing yang menjadi sandera. Serta sorotan masyarakat tanah air yang terus menantikan perkembangan penyelamatan korban selama lebih kurang 4 bulan.

Melihat rumitnya situasi tersebut, Prabowo sebagai komandan Kopassus yang juga memimpin operasi langsung menggerakkan pasukan dengan melakukan pengintaian ke dalam hutan Papua lewat udara.

Tidak mudah untuk melacak keberadaan para sandera yang ditahan oleh OPM dalam hutan Papua yang sangat luas akan tetapi pasukan penyelamat terus bekerja dan mendesak para penyandera.

Untuk melacak lokasi sandera, Prabowo membentuk tim inti pembaca jejak yang terdiri atas pasukan Kopassus dan kodam Cenderawasih yang kebanyakan dari mereka adalah putra daerah tugas tim ini untuk menembus ke daerah paling sulit.

Tim intelijen meyakini penyandera berada di dalam salah satu dari enam titik, kemudian Prabowo memutuskan enam titik tersebut sebagai sasaran operasi dan penyerbuan menggunakan enam helikopter serbu.

Penyerangan enam titik sesuai kajian tim intelijen membuahkan hasil dapat membebaskan sandera termasuk seluruh peneliti asing. Buah kerja keras tim yang dipimpin Prabowo Subianto menjadi sejarah penting dalam pembebasan sandera Mapenduma.

BACA JUGA