Penulis: M. Fajri Yanuar
OpiniKita.Id – Indonesia sebagai negara agraris dan maritim yang kaya akan potensi Sumber Daya Alam (SDA) serta pangan sejatinya dapat menjadi lumbung pangan dunia.
Namun faktanya menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia 2022 terdapat 17,7 juta orang atau setara 6,5 persen orang Indonesia mengalami kekurangan gizi.
Penyebab utama kekurangan gizi adalah kurangnya nutrisi dari makanan yang dikonsumsi sehingga tidak tercukupi dalam memenuhi energi harian untuk hidup sehat.
Di dalam Negara Kesejahteraan, program makan siang gratis yang ditawarkan Prabowo bukanlah hal yang baru namun banyak negara-negara yang menganut Negara Kesejahteraan sudah mengimplementasikan program tersebut.
Pemberian makan siang gratis bagis siswa akan berdampak positif bagi kualitas pendidikan, pertumbuhan anak, kualitas SDM serta membantu meringankan beban ekonomi keluarga dan adanya perputaran ekonomi yang masif.
Namun bukanlah hal yang mudah dalam mengimplementasikan program ini, tantangan yang akan dihadapi cukup serius karena membutuhkan anggaran yang besar.
Menjawab tantangan ini Prabowo sangat berhati-hati dan berani dalam mewujudkan program makan siang gratis ini, butuh kajian mendalam akan tantangan, dampak, hasil serta evaluasi program dari para pakar dan ahli di bidang masing-masing untuk mensukseskan Indonesia sebagai Negara Kesejahteraan menuju Indonesia Emas 2024.


