Ketika Para Medioker Bermunculan di Barisan Depan, Apa Akibat Jangka Panjang?



Ada masa ketika barisan depan diisi oleh mereka yang paling siap menanggung risiko keputusan. Ada pula masa yang kini kita jalani ketika posisi strategis ditempati oleh orang orang yang cukup puas menjadi aman. Bukan yang paling buruk, tetapi juga bukan yang paling layak. Medioker. Ia hadir tenang, rapi, dan sering kali tak terlihat berbahaya. Justru di situlah masalah bermula.

Di Indonesia hari ini, mediokritas tidak datang dengan kegaduhan. Ia datang lewat proses yang sah, prosedur yang lengkap, dan bahasa yang terdengar meyakinkan. Standar perlahan diturunkan atas nama stabilitas. Keberanian memilih yang unggul digeser oleh kenyamanan memilih yang tidak merepotkan. Akibatnya, banyak kursi penting diisi oleh orang orang yang cakap mengelola rutinitas, tetapi rapuh saat dituntut visi.

Dampak pertama tampak pada kualitas keputusan. Kebijakan lahir reaktif, mengejar gejala, bukan sebab. Masalah struktural ditangani dengan tambalan sementara. Ketika harga bergejolak karena spekulasi, responsnya administratif. Ketika ketimpangan melebar, jawabannya program jangka pendek. Negara terlihat bekerja, namun sesungguhnya berputar di tempat. Medioker menghindari risiko; ia memilih jalan tengah yang tampak bijak, padahal sering kali hanya menunda ledakan.

Lalu datang dampak yang lebih senyap namun mematikan: normalisasi standar rendah. Saat yang biasa biasa saja memimpin, yang unggul terasa mengganggu. Prestasi dianggap berlebihan, integritas dinilai naif, keberanian dicap tidak realistis. Talenta terbaik belajar untuk mengecilkan diri, atau memilih keluar dari ruang pengaruh. Institusi kehilangan daya saingnya, bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena iklim yang tidak memberi ruang bagi keunggulan.

Dalam jangka panjang, mediokritas menggerus kepercayaan publik. Bukan lewat satu skandal besar, melainkan melalui akumulasi keputusan kecil yang tak menyentuh kebutuhan nyata. Janji terdengar rapi, dampak terasa tipis. Rakyat melihat jarak antara kata dan kenyataan. Dari situ tumbuh sinisme: partisipasi melemah, kepatuhan menjadi transaksional, harapan menipis. Negara berjalan, tetapi tanpa ikatan batin dengan warganya.

Yang paling berbahaya, mediokritas memberi ruang nyaman bagi ketidakadilan lama. Karena enggan mengguncang, struktur timpang dibiarkan utuh. Spekulasi terus bermain, privilese lama tetap berputar, kerusakan alam tak sungguh dipulihkan. Medioker tidak selalu serakah; ia hanya terlalu jinak untuk melawan yang salah. Dan kejinakan itu mahal harganya.

Tulisan ini bukan ajakan mencaci individu. Ini ajakan menata arah. Mediokritas bukan takdir; ia hasil pilihan, pilihan untuk berhenti belajar, berhenti berani, berhenti mengukur dampak. Karena ia hasil pilihan, ia bisa dikoreksi. Dengan satu prasyarat: menaikkan standar secara sadar.

Indonesia tidak kekurangan kecerdasan. Yang sering kurang adalah keberanian institusional: memilih kompetensi di atas kedekatan, dampak di atas pencitraan, dan keberanian di atas kenyamanan. Barisan depan seharusnya kembali menjadi ruang tanggung jawab, tempat keputusan diukur bukan dari aman atau tidaknya, melainkan dari adil atau tidaknya, dari menjawab akar atau sekadar menutup luka.

Sebab bila medioker terus memimpin hari ini, kita sedang menabung masalah untuk esok. Sejarah selalu jujur pada tabungan semacam itu: bunganya tinggi, dan pembayarnya adalah generasi yang tak ikut memilih.

Munjul, 11 Januari 2026
Perenung Sunyi,
Azis Subekti

BACA JUGA