OPINIKITA.ID, Jakarta- Kebijakan pertahanan mengalami perubahan pada saat kepemimpinan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto guna menyempurnakan perkembangan di lingkungan strategis baik di tataran nasional maupun internasional. Kebijakan yang digunakan oleh Pemerintah untuk bidang pertahanan disebut dengan kebijakan MEF (Minimum Essential Force) atau Kekuatan Pokok Minimum yang bertujuan untuk mencapai kepentingan nasional dan memenuhi obyek-obyek dari pertahanan negara.
Indonesia telah menyetujui pembelian 42 jet tempur generasi 4.5 Rafale asal Perancis melalui penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pertahanan. Progres awal pengadaan jet tempur pabrikan Dassault Avation itu dengan mengakuisisi enam unit pada kontrak perdana. Sementara, 36 unit lainnya diklaim akan segera menyusul dalam waktu dekat.
Pembelian pesawat ini juga bersifat mendesak. Mengingat, kondisi kesiapan pesawat tempur Indonesia mengalami kemunduran dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu masalah yang paling mencolok yaitu usia pesawat tempur yang sudah berumur. Beberapa pesawat yang mulai menua meliputi F5 Tiger, Hawk 100 dan 200.
Melihat Keunggulan Jet Tempur Rafale memiliki mesin kembar yang dirancang sebagai pesawat serbaguna yang dapat menjalankan berbagai misi atau omnirole. Rafale dibekali dengan beragam sistem persenjataan, antara lain:
a) Rudal serangan udara-ke-udara MICA dan METEOR
b) Rudal serangan udara-ke-darat HAMMER
c) Rudal anti kapal permukaan AM39 EXOCET
d) Bom berpemandu laser
e) Meriam internal 30 mm dengan kemampuan 2500 putaran per menit.
Jet tempur ini juga mampu menampung senjata hingga sembilan ton. Kecepatan maksimalnya mencapai 1.384 kilometer per jam. Dengan kemampuan untuk membawa banyak jenis senjata dan sistem misi yang canggih, Rafale disebut dapat melakukan serangan udara-ke-darat, serta serangan udara-ke-udara dan pencegatan pesawat musuh dalam satu misi.
Pembelian 42 jet tempur rafale menjadi sebuah indikator kinerja menhan Prabowo Subianto yang memang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan.
Oleh karena itu, manuver dan kinerja pemerintahan di bidang pertahanan Indonesia kali ini seolah terasa begitu istimewa karena dilakukan langsung oleh abiturien Akabri 1974 itu.
Bagaimanapun, dengan kapabilitas Indonesia yang terbatas, Prabowo kiranya memang ditakdirkan untuk membawa perubahan positif bagi pertahanan Indonesia saat ini. Dengan peluangnya untuk memimpin negeri di 2024, kemajuan yang ditinggalkan Prabowo diharapkan dapat diteruskan oleh suksesornya kelak.
Prosesnya memang panjang untuk mendapatkannya. Artinya ketika Prabowo sudah tidak menjadi menteri pertahanan, pesawat ini sudah menjadi kekuatan pertahanan negara. Sehingga bangsa indonesia turut bangga atas jasa Prabowo Subianto atas dedikasinya untuk memperkuat pertahanan Indonesia.
(Yusmar Abdillah)


