Jakarta – Seruan Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan kebocoran kekayaan negara mendapat sambutan kuat dari Azis Subekti Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Partai Gerindra dari Dapil Jawa Tengah VI. Menurut Azis Subekti, pesan Prabowo bukan sekadar peringatan moral, melainkan panggilan nasional untuk menyelamatkan darah kehidupan bangsa: kekayaan negara.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kekayaan bangsa adalah ibarat darah yang mengalir di tubuh manusia. Jika darah itu terus bocor sedikit demi sedikit, maka tubuh akan lemah dan akhirnya mati. Azis Subekti menilai analogi tersebut sangat tepat menggambarkan situasi Indonesia saat ini di mana kebocoran pada pengelolaan sumber daya dan aset negara terus menggerogoti kekuatan nasional.
Azis Subekti menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Presiden Prabowo untuk menutup celah kebocoran yang selama ini terjadi, baik di sektor sumber daya alam, aset negara, maupun penerimaan negara lainnya. Ia menekankan bahwa kekayaan bangsa tidak boleh hilang karena lemahnya tata kelola, praktik koruptif, atau tumpang tindih regulasi.
“Kekayaan negara bukan sekadar angka di APBN, melainkan darah yang mengalir ke sekolah, rumah sakit, jalan, dan irigasi rakyat. Jika kebocoran ini dibiarkan, maka yang bocor bukan hanya uang negara, tetapi juga masa depan generasi muda,” tegas Azis Subekti.
Sebagai anggota Komisi II DPR RI yang membidangi pemerintahan dalam negeri, reformasi birokrasi, dan pertanahan, Azis Subekti menilai penataan aset negara adalah pintu masuk strategis untuk menghentikan kebocoran. Ia mendorong percepatan sertifikasi aset, integrasi basis data pertanahan, dan penyederhanaan izin usaha agar potensi penerimaan negara tidak lenyap di tengah proses birokrasi yang berbelit.
Lebih jauh, Azis Subekti menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap pengelolaan aset dan sumber daya publik. Ia menolak keras segala bentuk percaloan, korupsi, dan penyalahgunaan kewenangan yang menjadi penyebab utama kebocoran kekayaan negara. “Birokrasi harus menjadi benteng pertama penjaga kekayaan bangsa, bukan justru menjadi sumber kebocoran,” ujar Azis Subekti dengan tegas.
Dalam kapasitasnya di Komisi II, Azis Subekti berkomitmen mengawal perbaikan tata kelola di kementerian dan lembaga mitra kerja. Ia menekankan pentingnya transformasi digital dan transparansi dalam setiap proses administrasi publik. “Setiap izin, setiap sertifikat, dan setiap keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan di depan rakyat,” tegasnya lagi.
Tak hanya di pusat, Azis Subekti juga menggerakkan masyarakat di dapilnya Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Magelang, dan Kota Magelang—untuk aktif mengawasi pengelolaan kekayaan negara. Ia menilai, kedaulatan ekonomi hanya bisa terwujud jika rakyat turut menjaga kekayaan bangsanya sendiri dari kebocoran di lapangan.
“Setiap laporan rakyat adalah denyut nadi pengawasan. Kami di DPR akan menindaklanjuti setiap indikasi penyimpangan, terutama dalam urusan tanah, izin, dan layanan publik,” tambah Azis Subekti.
Menutup pernyataannya, Azis Subekti menegaskan bahwa pesan Presiden Prabowo Subianto adalah arah baru menuju Indonesia Emas. Dengan menghentikan kebocoran kekayaan negara, maka darah bangsa akan mengalir kembali ke rakyat melalui pendidikan, kesehatan, pangan, dan infrastruktur yang kuat. “Tugas kami di DPR adalah memastikan pesan Presiden berubah menjadi tindakan nyata, bukan sekadar janji,” tutup Azis Subekti.

Sunyi yang Dipilih Ketika Jokowi Menjawab Dengan Kesabaran
Di ruang publik Indonesia yang sering gaduh oleh perdebatan, nama Joko Widodo hampir tidak pernah benar benar sepi dari sorotan. Setiap langkahnya dibicarakan. Setiap kebijakannya

