Oleh: Azis Subekti
Ada satu hal yang sering tidak disadari ketika masyarakat melihat rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat: yang bergerak bukan hanya ekonomi, tetapi juga psikologi publik.
Begitu layar perdagangan menunjukkan angka kurs menembus batas tertentu, kegelisahan segera menyebar. Judul media menjadi lebih keras. Media sosial berubah seperti ruang kepanikan massal. Percakapan warung kopi mulai dipenuhi kekhawatiran tentang krisis. Seolah-olah nasib sebuah bangsa ditentukan hanya oleh satu angka yang bergerak di pasar valuta asing.
Padahal sejarah ekonomi dunia tidak pernah sesederhana itu.
Dalam sistem ekonomi global modern, nilai tukar mata uang bukan hanya ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi, tetapi juga oleh arus modal spekulatif, algoritma perdagangan, perang geopolitik, ekspektasi investor, lembaga pemeringkat, hingga psikologi ketakutan pasar dunia. George Soros pernah menjelaskan melalui teori reflexivity bahwa pasar tidak sekadar membaca kenyataan, tetapi sering ikut membentuk kenyataan itu sendiri.¹
Ketika persepsi negatif dibangun terus-menerus, modal keluar, tekanan meningkat, dan kepanikan perlahan dapat berubah menjadi masalah ekonomi nyata.
Karena itu, ekonomi global hari ini bukan hanya perang produksi dan perdagangan, tetapi juga perang persepsi.
Karl Polanyi sejak lama telah mengingatkan bahwa pasar modern memiliki kecenderungan melepaskan dirinya dari realitas sosial masyarakat.² Ketika pasar menjadi terlalu dominan, manusia mulai lupa bahwa ekonomi sejatinya dibangun bukan hanya oleh pergerakan uang, tetapi oleh kerja manusia, produksi pangan, industri, distribusi barang, dan daya tahan sosial masyarakatnya.
Hari ini dunia sedang berada di titik itu.
Ironisnya, negara yang mata uangnya paling menentukan arah ekonomi dunia—Amerika Serikat—justru sedang menghadapi tekanan internal yang besar.
Utang publik Amerika telah melampaui US$36 triliun.³ Defisit fiskalnya terus membesar. Suku bunga tinggi menekan sektor riil. Industri manufakturnya menghadapi tekanan kompetisi dari China. Polarisasi politik domestiknya makin tajam. Bahkan sejumlah ekonom dunia mulai mempertanyakan keberlanjutan dominasi ekonomi Amerika dalam jangka panjang.
Tetapi di tengah tekanan itu, dolar justru tetap menguat.
Mengapa?
Karena dolar bukan sekadar mata uang. Ia adalah simbol kekuasaan global.
Barry Eichengreen menyebut posisi dolar sebagai exorbitant privilege—hak istimewa luar biasa yang membuat Amerika Serikat mampu mempertahankan dominasi moneternya bahkan ketika fondasi ekonominya sendiri sedang mengalami tekanan.⁴ Dunia masih menggunakan dolar untuk perdagangan minyak, utang internasional, cadangan devisa, hingga transaksi perdagangan global. Ketika dunia takut, modal internasional mencari tempat yang dianggap paling aman. Dan sampai hari ini, dolar masih memegang posisi itu.
Di sinilah banyak negara berkembang terkena dampak bukan semata karena ekonominya runtuh, tetapi karena arus modal global bergerak sangat spekulatif menuju aset dolar.
Karena itu, membaca pelemahan rupiah harus dilakukan secara jernih dan proporsional.
Melemahnya rupiah memang tidak boleh dianggap sepele. Indonesia masih memiliki ketergantungan impor pada sektor tertentu:
• energi,
• bahan baku industri,
• alat kesehatan,
• teknologi,
• farmasi,
• hingga sebagian kebutuhan pangan dan pakan ternak.
Ketika rupiah melemah:
• biaya impor meningkat,
• harga pupuk terdorong naik,
• logistik menjadi lebih mahal,
• industri menghadapi tekanan biaya,
• dan inflasi perlahan ikut bergerak.
Tetapi kesalahan terbesar adalah ketika masyarakat menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah otomatis berarti Indonesia sedang menuju kehancuran ekonomi.
Dalam sejarah ekonomi modern, negara yang benar-benar memasuki fase krisis sistemik hampir selalu memperlihatkan keruntuhan simultan pada sejumlah indikator utama:
• inflasi yang tidak terkendali,
• sistem perbankan yang mulai goyah,
• gagal bayar utang yang meluas,
• distribusi pangan yang terganggu,
• kemampuan fiskal negara yang melemah,
• hingga lonjakan pengangguran secara ekstrem.
Sri Lanka mengalami tekanan berat ketika cadangan devisanya runtuh dan negara kesulitan membiayai impor energi maupun pangan. Argentina berkali-kali mengalami hiperinflasi dan krisis mata uang. Lebanon mengalami kehancuran sistem perbankan yang melumpuhkan kehidupan ekonominya.
Sampai hari ini, Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan sistemik semacam itu.
Inflasi relatif masih terkendali. Sistem perbankan tetap berada dalam pengawasan yang stabil. Aktivitas ekonomi domestik berjalan. Konsumsi masyarakat masih hidup. Cadangan devisa relatif memadai. Bahkan di tengah perlambatan global, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level yang relatif tinggi dibanding banyak negara lain.
Pada kuartal pertama tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara G20 yang telah merilis data ekonominya.⁵ Pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding Amerika Serikat, sebagian besar negara Eropa, Korea Selatan, bahkan melampaui sejumlah ekonomi besar dunia yang sedang mengalami perlambatan.⁶
Makna angka ini sesungguhnya sangat besar.
Ia menunjukkan bahwa di tengah dunia yang sedang kehilangan keseimbangan ekonomi baru, mesin domestik Indonesia masih hidup.
Konsumsi rumah tangga tumbuh kuat. Konsumsi pemerintah meningkat tajam. Investasi mulai bergerak. Aktivitas ekonomi masyarakat tetap berlangsung.⁷ Ini berarti fondasi ekonomi Indonesia tidak semata bertumpu pada pasar modal atau ekspor komoditas, tetapi pada kekuatan konsumsi domestik dan ekonomi riil masyarakatnya sendiri.
Dan di sinilah letak keunikan Indonesia.
Banyak negara sangat kuat secara finansial tetapi rapuh secara sosial. Ketika pasar keuangan terguncang, konsumsi langsung jatuh dan ekonomi cepat melambat. Indonesia memiliki kelemahan struktural, tetapi sekaligus memiliki bantalan sosial yang sangat besar:
• UMKM,
• perdagangan tradisional,
• sektor informal,
• ekonomi keluarga,
• pertanian rakyat,
• dan pasar domestik yang luas.
Desa memegang peran yang jauh lebih penting daripada yang sering dibayangkan para analis ekonomi modern.
Dalam banyak krisis, kota sering menjadi pusat kepanikan, tetapi desa menjadi ruang bertahan hidup.
Sawah tetap ditanami. Pasar desa tetap hidup. Warung tetap buka. Nelayan tetap melaut. Aktivitas ekonomi dasar masyarakat tetap berlangsung bahkan ketika pasar global dipenuhi kepanikan.
Desa bukan sekadar objek pembangunan.
Desa adalah bantalan peradaban ekonomi Indonesia.
Dari desa lahir ketahanan pangan. Dari desa lahir stabilitas sosial. Dari desa lahir daya tahan konsumsi dasar masyarakat. Bahkan dalam banyak krisis nasional, masyarakat kota yang kehilangan pekerjaan sering kembali ke desa untuk bertahan hidup.
James C. Scott menyebut daya tahan seperti ini sebagai moral economy—mekanisme bertahan masyarakat bawah ketika sistem besar mengalami tekanan.⁸ Dan Indonesia masih memiliki sebagian besar karakter sosial itu.
Namun Indonesia juga tidak boleh terlena.
Ancaman terbesar Indonesia ke depan bukan sekadar pelemahan rupiah, tetapi jika Indonesia gagal naik kelas menjadi negara produksi.
Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya ditopang konsumsi. Indonesia harus memperkuat industrialisasi, hilirisasi, teknologi, produktivitas nasional, dan penguasaan rantai pasok strategis. Jika tidak, rupiah akan terus rentan terhadap tekanan dolar karena kebutuhan impor strategis tetap besar.
Di sinilah arah ekonomi Indonesia beberapa tahun ke depan menjadi sangat menentukan.
Jika hilirisasi industri berjalan,
jika investasi manufaktur tumbuh,
jika proyek strategis nasional menciptakan produktivitas nyata,
jika Danantara mampu mengonsolidasikan kekuatan investasi nasional,
jika desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,
maka pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi memasuki fase yang jauh lebih kuat pada kuartal-kuartal berikutnya.
Maknanya bukan sekadar angka PDB meningkat.
Tetapi:
• lapangan kerja bertambah,
• kelas menengah tumbuh,
• produksi nasional naik,
• daya beli masyarakat membaik,
• dan ketahanan rupiah perlahan menguat dari fondasi ekonomi riil.
Ray Dalio dalam analisisnya tentang perubahan tatanan dunia menjelaskan bahwa sejarah global bergerak dalam siklus panjang: pergantian kekuatan ekonomi, perubahan dominasi mata uang, dan restrukturisasi geopolitik.⁹ Dunia hari ini sedang bergerak menuju fase multipolar:
• China naik,
• BRICS berkembang,
• dedolarisasi mulai dibicarakan,
• dan negara-negara berkembang mulai mencari keseimbangan baru.
Tetapi setiap transisi global selalu melahirkan turbulensi.
Dalam situasi seperti itu, rumor, spekulasi, dan ketegangan psikologis sering kali bergerak lebih cepat daripada data objektif. Persepsi pasar dapat memperbesar tekanan ekonomi bahkan ketika fundamental sebuah negara belum runtuh.
Karena itu stabilitas ekonomi modern bukan hanya soal angka, tetapi juga soal kemampuan negara menjaga kepercayaan publik dan kejernihan informasi.
Dan dalam situasi seperti sekarang, kekuatan terbesar sebuah bangsa bukan hanya cadangan devisanya, melainkan ketahanan ekonomi domestiknya sendiri:
• pangan yang tetap aman,
• rakyat yang tetap bekerja,
• industri yang terus bergerak,
• desa yang tetap hidup,
• dan kemampuan negara menjaga kepercayaan masyarakatnya.
Karena itu, membaca rupiah tidak boleh hanya melalui grafik kurs.
Kita juga harus membaca:
• sawah yang tetap produktif,
• industri yang mulai tumbuh,
• investasi yang bergerak,
• pasar desa yang tetap hidup,
• dan rakyat yang tetap bekerja.
Sebab pada akhirnya, kekuatan mata uang hanyalah pantulan dari kepercayaan terhadap daya hidup sebuah bangsa.
Dan sejarah tidak pernah memberikan tempat istimewa bagi bangsa yang tidak pernah mengalami tekanan. Sejarah hanya mengingat bangsa-bangsa yang mampu bertahan ketika dunia berubah arah.
Indonesia mungkin sering diragukan.
Tetapi negeri ini berkali-kali menunjukkan satu hal penting: ia terlalu besar untuk runtuh hanya oleh kepanikan pasar sesaat.
Catatan Kaki (Chicago Style)
¹ George Soros, The Alchemy of Finance (New York: Simon & Schuster, 1987), 27–45.
² Karl Polanyi, The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time (Boston: Beacon Press, 2001), 71–80.
³ U.S. Department of the Treasury, “Debt to the Penny,” accessed May 18, 2026, https://fiscaldata.treasury.gov.
⁴ Barry Eichengreen, Exorbitant Privilege: The Rise and Fall of the Dollar and the Future of the International Monetary System (New York: Oxford University Press, 2011), 3–15.
⁵ Badan Pusat Statistik, “Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Tumbuh 5,61 Persen (y-on-y),” Berita Resmi Statistik, May 5, 2026.
⁶ Reuters, “Indonesia’s Q1 GDP Growth Beats Market Expectations amid Global Slowdown,” May 5, 2026.
⁷ Badan Pusat Statistik, “Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah Triwulan I-2026,” May 2026.
⁸ James C. Scott, The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia (New Haven: Yale University Press, 1976), 1–39.
⁹ Ray Dalio, The Changing World Order: Why Nations Succeed and Fail (New York: Avid Reader Press, 2021), 1–32.

Azis Subekti: Jangan Korbankan Martabat Manusia di Papua Demi Narasi Digital
JAKARTA – Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, mengeluarkan peringatan keras mengenai fenomena kekuatan narasi dan propaganda modern yang kini

